Minggu, 18 Januari 2026

Cinta Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alayhi wa Sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai konsekuensi dari syahadatain dan jalan menuju bahagia dan selamat di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 71, “Barangsiapa menaati Allah dan rasul-Nya maka menang dengan kemenangan yang besar.” Salah satu dalam kandungan kemenangan ini adalah surga.

Dengan diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul Allah, manusia dapat membedakan kebenaran dan kebatilan dalam seluruh perkaranya, selama mereka mengambil ilmu dari rasul.

Demikian tinggi kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah, sehingga Allah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mencintai rasul melebihi cinta kepada orang lain, termasuk diri sendiri. Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan dalam salah satu kitabnya, cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kewajiban terbesar dalam agama.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari)

Dan Allah berfirman,

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (Ali Imran: 31)

Allah telah menjadikan ittiba’ (mengikuti RasulNya) sebagai indikator apakah hamba cinta Allah. Hal ini dapat diwujudkan, hanya setelah iman dan cinta kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan kita mencontoh dan bersikap sama dengan beliau dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya. Dan diwujudkan dalam ittiba’ (meniru) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib mencintai semua yang beliau cintai, dan membenci semua yang beliau benci, ridha dengan semua yang beliau ridhai dan marah terhadap semua yang beliau marah padanya, serta mengamalkan semua tuntutan cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan.

Ada lagi, Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bisa terwujud dengan membenarkan seluruh berita beliau dari Allah, menaati perintah dan mencontoh beliau, serta mencintai dan setia kepadanya, tidak mendustakan ajaran beliau dan tidak berbuat syirik serta bersikap berlebihan terhadap beliau.”

Referensi: Hakikat Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam | Almanhaj

Tidak ada komentar:

Posting Komentar