Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai konsekuensi dari syahadatain dan jalan menuju bahagia dan selamat di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 71, “Barangsiapa menaati Allah dan rasul-Nya maka menang dengan kemenangan yang besar.” Salah satu dalam kandungan kemenangan ini adalah surga.
Dengan diutusnya beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai rasul Allah, manusia dapat membedakan kebenaran
dan kebatilan dalam seluruh perkaranya, selama mereka mengambil ilmu dari rasul.
Demikian tinggi kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah, sehingga Allah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mencintai rasul melebihi cinta kepada orang lain, termasuk diri sendiri. Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan dalam salah satu kitabnya, cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kewajiban terbesar dalam agama.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak sempurna iman salah
seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya,
anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari)
Dan Allah berfirman,
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni
dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (Ali
Imran: 31)
Allah telah menjadikan
ittiba’ (mengikuti RasulNya) sebagai indikator apakah hamba cinta Allah. Hal
ini dapat diwujudkan, hanya setelah iman dan cinta kepada nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Cinta kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengharuskan kita mencontoh dan bersikap sama dengan beliau
dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya. Dan diwujudkan dalam ittiba’
(meniru) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib mencintai
semua yang beliau cintai, dan membenci semua yang beliau benci, ridha dengan
semua yang beliau ridhai dan marah terhadap semua yang beliau marah padanya,
serta mengamalkan semua tuntutan cinta dan benci tersebut dengan amal
perbuatan.
Ada lagi, Syaikh Ibnu
Taimiyah berkata, “kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam hanya bisa terwujud dengan membenarkan seluruh berita
beliau dari Allah, menaati perintah dan
mencontoh beliau, serta mencintai dan setia kepadanya, tidak mendustakan ajaran
beliau dan tidak berbuat syirik serta
bersikap berlebihan terhadap beliau.”
Referensi: Hakikat Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam | Almanhaj
Tidak ada komentar:
Posting Komentar