Kamis, 09 Maret 2017

Resensi Novel - Supernova 3: Petir karya Dee (Dewi Lestari)



Pendaran Kilat: Pemirsa, Enterpreneur, Tabib
oleh: Muhammad Evan Anindya Wahyuaji
identitas buku:
-          judul                                   : Supernova 3: Petir
-          pengarang                          : Dewi Lestari (Dee)
-          tahun terbit                        : 2012
-          penerbit                              :  Bentang
-          jumlah halaman                 : x + 268 halaman
-          cetakan                               : Kedua, April 2012

Supernova 3: Petir karya Dee (Dewi Lestari)
                Supernova 3: Petir ini merupakan salah satu novel dari serial Supernova karya Dewi Lestari, berisikan keping 37 sampai keping 39 Supernova. Novel ketiga dari serial Supernova ini ditulis dengan gaya bahasa dan sudut pandang yang menarik serta sifat-sifat tokoh yang sangat hidup, sebut saja Elektra yang lugu dan Mpret yang ekstrovert.
                Dimas dan Reuben–tokoh dari Supernova 1: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh–mengalami stagnasi, dua tahun setelah roman mereka rampung. Hingga suatu hari mereka mendapat surat elektronik dari Gio, kata “Supernova” yang disebut Gio dalam surel itu menjadi tanda tanya baru sekaligus awal pengetahuan Dimas dan Reuben tentang jaringan yang selama ini melibatkan mereka tanpa disadari.
                Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra–seorang gadis sebatang kara–berusaha menyambung hidup. Berawal dari perkenalannya dengan seorang yogini bernama Ibu Sati dan seorang enterpreneur muda urakan bernama Toni alias Mpret, hidup Elektra mulai terakselerasi. Dari hanya seorang ‘penonton bioskop kehidupan’, Elektra menjadi seorang pemain dalam ‘bioskop kehidupan’ tersebut. Kehidupan sosial Elektra juga bertransformasi. Bermula dari tidak punya teman, menjadi punya sedikit teman, lalu setiap harinya bercakap dengan orang baru. Setelah stabil dalam lingkungannya yang baru, hidup Elektra kembali siap diguncang ketika Bong memintanya untuk menyembuhkan seseorang yang tidak ia kenal bernama Bodhi.

                Dibandingkan dengan Supernova 1: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Supernova 3: Petir dibawakan dengan santai dengan lebih sedikit teori sains, tidak seperti Supernova 1 yang memerlukan banyak footnote untuk menjelaskan teori sains yang diikutkan.
                Supernova 3: Petir ini memiliki keunggulan berupa gaya bahasa dan sudut pandang yang begitu menarik, karena gaya bahasa dan pola pikir Elektra mendominasi Keping 38: Petir. Selain itu tokoh-tokoh yang hadir begitu hidup dan berkarakter. Sedangkan untuk kekurangannya adalah ada beberapa kata berbahasa Sunda yang tidak diberi footnote terjemahannya, sehingga pembaca yang tidak menguasai bahasa Sunda tidak mengerti artinya.
                Novel ini cocok dibaca untuk semua golongan, terutama golongan pemuda karena terdapat sedikit teori sains dan pemikiran Elektra merupakan pemikiran anak muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar